Guyub Mbangun Perpustakaan

dok.chandraekajaya

Bupati Sragen Kusdinar Untung Yuni Sukowati menerbitkan Surat Edaran (SE) Nomor: 041/29a/033/2017 tentang Alokasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa untuk Pengembangan Perpustakaan Desa. SE tersebut mewajibkan setiap desa mengembangkan perpustakaan desa {Solopos, 25 Februari 2017).

Dalam SE ini Bupati Sragen mewajibkan setiap desa melaksanakan hal-hal yang berkaitan dengan pengembangan perpustakaan desa. Pertama, melaksanakan pemberdayaan dan pengembangan perpustakaan desa dalam rangka meningkatkan budaya membaca masyarakat desa.

Kedua, mengalokasikan sebagian anggaran pendapatan dan belanja (APB) desa bagi operasional perpustakaan desa yang meliputi pengadaan, pengolahan, dan pelayanan bahan pustaka; promosi budaya membaca; insentif bagi pengelola perpustakaan desa; pengadaan sarana dan prasarana perpustakaan; dan pembangunan ruang/gedung perpustakaan desa.

Ketiga, menyediakan gedung/ ruangan khusus untuk perpustakaan desa yang dilengkapi dengan sarana dan prasarana yang memadai sesuai dengan kemampuan APB desa. Keempat, menugaskan salah seorang perangkat desa untuk mengelola perpustakaan desa agar layanan perpustakaan dapat berjalan dengan baik.

Menurut Undang-undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa, perpustakaan desa merupakan salah satu kewenangan lokal berskala desa. Kewenangan lokal berskala desa adalah kewenangan untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat desa yang telah dijalankan oleh desa atau yang muncul karena perkembangan desa.

Perpustakaan adalah salah satu lembaga di desa yang bisa membantu memberdayakan masyarakat. Pemberdayaan masyarakat desa adalah upaya mengembangkan kemandirian dan kesejahteraan masyarakat dengan meningkatkan pengetahuan, sikap, keterampilan, perilaku, kemampuan, kesadaran, serta memanfaatkan sumber daya.

Desa Puro

Desa Puro di Kecamatan Karangmalang, Kabupaten Sragen, adalah salah satu contoh desa yang memiliki komitmen tinggi terhadap pengembangan perpustakaan desa. Perpustakaan Desa Puro yang diberi nama Bukuku Guruku telah berkembang menjadi pusat pemberdayaan masyarakat desa.

Perpustakaan desa ini meluncurkan program Dekat Manfaat yang didanai sepenuhnya oleh APB desa. Membuat masyarakat senang dengan layanan perpustakaan adalah kata kunci untuk program ini. Ada empat kegiatan yang dilakukan oleh pengelola Perpustakaan Bukuku Guruku di Desa Puro, Kecamatan Karangmalang, Kabupaten Sragen.

Pertama, buku keliling desa. Ini merupakan salah satu layanan jemput bola untuk mendekatkan masyarakat dengan buku. Para pengelola perpustakaan membuka layanan ini di 13 pos pelayanan terpadu (posvandu) di Desa Puro.

Jadwal keliling disesuaikan dengan jadwal operasional posyandu. Biaya operasional sekitar Rp50.000/lokasi yang diambilkan dari APB Desa Puro. Kedua, buku menjadi karya. Pengelola perpustakaan bekerja sama dengan Kelompok Kerja (Pokja) 2 dan Pokja 3 Pembinaan Kesejahterana Keluarga (PKK) Desa Puro.

Kegiatan yang dilaksanakan adalah mempraktikkan isi buku yang ada di rak perpustakaan desa dalam bentuk pelatihan handmade, pelatihan wirausaha, dan sarasehan/sosialisasi. Acara ini diselenggarakan secara rutin setiap tanggal 20 pada pukul 13.00 WIB di perpustakaan desa.

Biaya operasional berasal dari APB desa dan sumbangan sukarela dari Komunitas Wanita Mandiri Desa Puro. Ketiga, buku untuk membimbing belajar. Pengelola perpustakaan berbekal buku di perpustakaan mengadakan program bimbingan belajar (bimbel) gratis untuk masyarakat.

Bimbel bahasa Inggris dilaksanakan untuk anak SD Kelas IV, V, dan VI setiap Kamis pukul 16.00 WIB. Selain itu juga ada bimbel untuk matematika dan membaca serta menulis Alquran.

Keempat, buka Internet untuk masyarakat. Perpustakaan membuka layanan Internet gratis dan free hotspot area untuk masyarakat.

Ini dilakukan guna menjalankan proses edukasi menggunakan Internet sehat bagi masyarakat agar masyarakat bisa memilih informasi dengan baik. Dekat Manfaat adalah program yang sangat kreatif untuk mendekatkan perpustakaan dan masyarakat melalui empat jenis layanan yang manfaatnya bisa dirasakan langsung oleh masyarakat.

Persepsi masyarakat tentang perpustakaan desa yang hanya melayani hal ihwal terkait buku ditepis dengan adanya layanan dari buku menjadi karya dan buka Internet untuk masyarakat. Dengan pelatihan buku menjadi karya perpustakaan mencoba memahamkan masyarakat bahwa isi buku ternyata bisa dipraktikkan menjadi karya nyata yang membawa manfaat dalam kehidupan mereka.

Layanan Internet di perpustakaan berguna untuk mengundang masyarakat agar memanfaatkan Internet untuk kebaikan dan kesejahteraan hidup. Buku keliling desa adalah ide yang sangat inovatif untuk level desa.

Perpustakaan tak hanya menunggu kedatangan masyarakat melainkan harus bergerak mendekat kepada masyarakat. Mendatangi pusat keramaian masyarakat desa. Tak melulu berdalih bahwa masyarakat tak mau membaca.

Di perpustakaan ini juga tumbuh dengan baik komunitas anak-anak yang setiap pulang sekolah selalu mampir ke perpustakaan desa. Selesai menjemput anak-anak dari sekolah, orang tua mengantarkan anak-anak ke perpustakaan desa. Akhirnya, “sapi nyusu gudel”, orang tua mengikuti anak turut membaca di perpustakaan.

Di perpustakaan ini ada ritual khusus yang diberikan kepada anak-anak. Sambil menunggu antre berlatih komputer mereka menulis puisi, cerita, maupun menggambar/mewarnai. Setelah itu mengumpulkan hasil karya, mengambil hadiah, membaca buku, dan main puzzle.

Meminjam buku untuk dibaca di rumah merupakan penutup ritual ini. Perpustakaan desa juga menjadi tempat favorit bagi anak-anak untuk mengerjakan tugas-tugas dari sekolah. Perpustakaan desa adalah amanah resmi undang-undang desa.

Masih cukup banyak pemerintah desa yang belum bergerak memberikan anggaran layak bagi pengembangan perpustakaan. Kehadiran SE Bupati Sragen ini diharapkan mampu menggugah pemerintah desa di Sragen untuk bangkit bersama dan guyub rukun mbangun perpustakaan desa.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*