Kado Kehormatan Google Doodle untuk Mendiang Pramoedya Ananta Toer

Dok.Yohanes Chandra Ekajaya

Dok.Yohanes Chandra Ekajaya

Tokoh sastrawan sekaligus maestro di dunia kesusastereaan Indonesia, Pramoedya Ananta Toer, baru-baru ini memperoleh penghormatan dari Google dengan memberikan sebuah tampilan dari laman Google Doodle ketika Anda mencarinya di google.co,id. Perusahaan yang didirikan oleh Larry Page dan Sergey Brinn ini turut merayakan hari ulang tahun sang maestro Pramoedya Ananta Toer tersebut yang ke 92.
Coba Anda melakukan akses internet dan masuk ke laman Google pada hari ini, Senin (6/2), maka Anda langsung akan langsung menemukan sebuah Google Doodle yang menghadirkan gambar ilustrasi berupa sosok  Pramoedya Ananta Toer yang sedang mengetik di sebuah mesin tulis manual. Saat itu juga, ikon pada laman Google pun tersemat di sebuah kibord dari mesin ketik tersebut.

Ya, hari ini Google memang turut merayakan hari ulang tahun maestro Sastra Indonesia yang sangat populer disapa dengan Pak Pramoedya Ananta Toer itu yang ke-92. Pria kelahiran di Blora, Jawa Tengah, pada 6 Februari 1925, Pramoedya Ananta Toer pun dikenal secara luas sekaligus dianggap sebagai salah satu sosok pengarang yang produktif dalam dunia sejarah sastra Indonesia. Sepanjang hayatnya, ia pun juga telah menghasilkan lebih dari 50 karya yang hampir kesemuanya pernah diterjemahkan ke dalam lebih dari 41 bahasa asing.

Pramoedya Ananta Toer dilahirkan sebagai anak sulung dalam keluarganya. Ayahnya adalah seorang guru, sedangkan ibunya seorang penjual nasi. Nama aslinya adalah Pramoedya Ananta Toeroedya Ananta Mastoer, sebagaimana yang tertulis dalam koleksi cerita pendek semi-otobiografinya yang berjudul Cerita Dari Blora.

Dok.Yohanes Chandra Ekajaya

Sekilas Tentang Masa Muda Pramoedya Ananta Toer

Pramoedya Ananta Toer muda merupakan lulusan dari pendidikan pada Sekolah Kejuruan Radio di Surabaya, dan kemudian bekerja sebagai juru ketik untuk media  Negeri Matahari Terbit di Jakarta selama pendudukan Negeri Matahari Terbit di Indonesia. Di masa kemerdekaan Indonesia, Pramoedya Ananta Toer mengikuti kelompok militer di Jawa dan kerap ditempatkan di Jakarta pada akhir perang kemerdekaan. Ia menulis cerpen serta buku di sepanjang karier militernya dan ketika dipenjara Belanda di Jakarta pada 1948 dan 1949.

Pada dekade 1950-an, ia pun pernah mukim di Belanda sebagai bagian dari program pertukaran budaya, dan ketika kembali ke Indonesia, ia menjadi anggota Lekra, salah satu organisasi sayap kiri di Indonesia. Gaya penulisannya berubah selama masa itu, sebagaimana yang ditunjukkan dalam karyanya berjudul Korupsi, sebuah fiksi kritik pada pamong praja yang jatuh di atas perangkap korupsi. Hal ini menciptakan friksi antara dirinya dan pemerintahan Soekarno.

Pada masa itu, Pramoedya Ananta Toer mulai mempelajari penyiksaan terhadap etnis Tionghoa yang menjamur di Indonesia. Lalu pada saat yang sama, ia pun mulai menjalin hubungan yang  erat dengan para penulis di negeri bambu. Khususnya, Pramoedya Ananta Toer kemudian menerbitkan rangkaian surat-menyurat dengan penulis Tionghoa yang banyak berkisah tentang sejarah Tionghoa di Indonesia, yang berjudul Hoakiau di Indonesia.

Pramoedya Ananta Toer merupakan kritikus yang tak mempedulikan pemerintahan Jawasentris di Indonesia, dan secara terkenal mengusulkan bahwa pemerintahan mesti dipindahkan ke luar Jawa. Selepas huru-hara politik pada 1965, ia pun kemudian ditahan pemerintahan Soeharto karena pandangan pro-Komunis China-nya. Buku-buku karyanya dilarang dari peredaran, dan ia ditahan tanpa pengadilan di Nusakambangan di lepas pantai Jawa, dan akhirnya ditempatkan di Pulau Buru di kawasan timur Indonesia.

Ia pun pernah dilarang untuk melakukan kegiatan menulis selama masa penahanannya di Pulau Buru, namun Pramoedya Ananta Toer tetap mengatur untuk menulis serial karya terkenalnya yang berjudul Bumi Manusia, serial 4 kronik novel semi-fiksi sejarah Indonesia. Tokoh utamanya Minke, bangsawan kecil Jawa, dicerminkan pada pengalaman RM Tirto Adisuryo seorang tokoh pergerakkan pada zaman kolonial yang mendirikan organisasi Sarekat Priyayi dan diakui oleh Pramoedya Ananta Toer sebagai organisasi nasional pertama..

Pramoedya Ananta Toer dibebaskan dari tahanan pada 21 Desember 1979 dan mendapatkan surat pembebasan secara hukum tidak bersalah dan tidak terlibat Gerakan 30 September, tetapi masih dikenakan tahanan rumah di Jakarta hingga 1992, serta tahanan kota dan tahanan negara hingga 1999, dan juga wajib lapor satu kali seminggu ke Kodim Jakarta Timur selama kurang lebih 2 tahun.

Selama masa itu, Pramoedya Ananta Toer menulis Gadis Pantai, novel semi-fiksi lainnya berdasarkan pengalaman neneknya sendiri. Ia juga menulis Nyanyi Sunyi Seorang Bisu (1995), otobiografi berdasarkan tulisan yang ditulisnya untuk putrinya namun tak diizinkan untuk dikirimkan, dan Arus Balik (1995).
Ketika Pramoedya Ananta Toer memperolehkan Ramon Magsaysay Award pada 1995, diberitakan sebanyak 26 tokoh sastra Indonesia menulis surat ‘protes’ ke yayasan Ramon Magsaysay.
Pramoedya Ananta Toer memang banyak dari tulisannya menyentuh tema interaksi antarbudaya; antara Belanda, kerajaan Jawa, orang Jawa secara umum, dan Tionghoa. Banyak dari karyanya juga semi-otobiografi, di mana ia menggambar pengalamannya sendiri. Ia meninggal pada pada 30 April 2006, dimana sosok Pramoedya Ananta Toer sang sastrawan besar Indonesia tersebut wafat dalam usia 81 tahun.

Penulis: Yohanes Chandra Ekajaya

Editing: Yohanes Chandra Ekajaya

Baca ulasan lengkap lainnya dari Yohanes Chandra Ekajaya

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*